Wednesday, September 13, 2006

Tidak Semua Penyakit Ada Dibuku

Begitulah seorang teman yang berprofesi sebagai dokter. Dia bercerita bahwa dirinya pernah dibuat pusing menangani pasien yang sudah 40 hari koma pasca operasi, tak sadarkan diri. Semua bukunya dibuka kembali. Semua profesor diberbagai bidang penyakit diajaknya konsultasi. Namun tak juga ketemu jawabannya.

Sampai suatu ketika dia melihat seorang ibu tua menengok sang pasien. Tak selang lama beberapa hari pasiennya siuman dari koma, terdasarkan diri dan tak lama kesehatannya berangsur pulih. Dokter tersebut keheranan, bagaimana mungkin dari tak sadarkan diri selama 40 hari bisa pulih kurang dari satu minggu hanya karena ditengok seorang ibu tua.

Dia beranikan diri bertanya pada istri pasien yang waktu itu menungguinya. Kata istrinya, ibu tua itu adalah ibu sang pasien. Sewaktu menengok itu ibunya berkata bahwa dirinya hari ini sudah memaafkan semua kesalahan anaknya. Setelah ibunya pergi, suaminya mulai sadarkan diri.


Wassalam,
Agussyafii
http://agussyafii.blogspot.com/

Macet Itu Asyik loh..

Kalau ingin wisata kemacetan cobalah berkeliling kota Jakarta. Apa lagi yang tinggal di Ciledug. Yang namanya macet hampir jadi makanan sehari-hari. Tidak mengenal pagi, siang, sore atau malam macet bisa dijumpai dimanapun. Selain macet bisa membuat stress juga membuat pusing tujuh keliling dari hari-hari tanggal tua.

Pernah saya mengeluh paada istri bagaimana macetnya diperjalanan menuju ke kantor. Katanya, “Mas, obatnya macet adalah berzikir. Selain mengobati stress dan pusing tujuh keliling juga mendapat pahala lho.”

Sejak itu ketika saya ditengah kemacetan, waktu saya gunakan sebaik mungkin untuk berzikir, ternyata asyik juga ya…

Wassalam,
Agussyafii
http://agussyafii.blogspot.com

Awal Pencerahan

Pencerahan berfikir pada setiap orang tentunya berbeda. Ada yang sehabis membaca buku, ada yang dengan diskusi atau ada sehabis pulang ikut kursus. Demikian halnya dengan saya, pencerahan bisa saya dapatkan dimana-mana, membaca buku, ngobrol dengan istri bahkan bertemu dengan pengemis dijalanan sekalipun. Tapi awal sekali pencerahan dalam hidup saya terjadi justru satu peristiwa dengan bapak.

Saya ingat waktu itu hari raya idul adha, sehabis pulang sekolah saya menceritakannya pada bapak bahwa di depan Kodim (Komandan Distrik Militer) Tulung Agung sedang dibagikan daging korban. Saya bertanya pada bapak, apakah boleh saya ikut mengantri untuk mendapatkan daging korban itu. Bapak saya mengatakan, “kita boleh miskin tapi jiwa kita kaya.” Setelah itu bapak mengajak saya pergi ke pasar membeli daging kambing. Hari itu kami sekeluarga sedang berpesta dengan menyantap daging kambing yang baru kami beli. Itulah awal pencerahan dalam hidup saya. Bagaimana awal pencerahan hidup anda?

Wassalam,
Agussyafii
http://agussyafii.blogspot.com

Memberi Berarti Menerima

Ada seorang teman yang selalu menyediakan uang receh dikantong
celananya. Beberapa kali saya sempat menemaninya bepergian dia
selalu memberikan uang recehnya, mulai dari pengamen sampai peminta-
minta. Buat saya sebenarnya perbuatan itu bukanlah yang aneh. Cuman
saya terkadang tergelitik untuk menemukan pencerahan dari perbuatan
teman saya ini. Akhirnya saya beranikan diri untuk bertanya padanya.

"Mas, kenapa sih mesti repot-repot menyediakan uang receh untuk
dibagikan buat orang lain?" Kata saya padanya.. "Apa yang kita beri
berarti kitalah yang menerima." Jawabnya. Selanjutnya dia
menjelaskan bahwa apa yang diberikan buat orang lain itu sebenarnya
dirinyalah yang menerima. Bukan orang lain.